Abstrak
Artikel ini bertujuan
untuk memberi pemahaman tentang berinvestasi dalam bentuk obligasi. Obligasi merupakan
surat utang jangka panjang yang akan dibayar kembali pada saat jatuh tempo,
dimana nilai utang dari obligasi tersebut dinyatakan dalam surat utangnya.
Suatu investasi baik dalam bentuk saham maupun surat utang memiliki risiko.
Risiko default merupakan risiko pada suatu surat utang (obligasi), dimana
penerbit obligasi tidak dapat membayarkan utang yang sudah jatuh tempo kepada
pemegang obligasi (investor). Sedangkan kupon merupakan pendapatan suku bunga
yang diterima oleh pemegang obligasi atas perjanjian dengan penerbit obligasi
tersebut, dan suku bunga disebut sebagai imbal hasil yang diperoleh oleh
investor.
PENDAHULUAN
Seseorang yang mempunyai kas surplus sering
sekali berpikir untuk mencari suatu alternatif yang dapat memberikan suatu
hasil di kemudian hari. Dana yang dimiliki oleh seorang yang memiliki kas
surplus tidak selalu harus dalam bentuk tabungan maupun asuransi, melainkan
dapat menyimpan dana yang terkumpul ke dalam sebuah bentuk investasi. Maka dengan
melakukan perhitungan yang cerdas yakni menghitung yield (hasil) atau return
(imbal hasil) dari alternatif-alternatif yang ditawarkan serta menghitung total
nilai akan datang (future value)
mutlak dibutuhkan, dan ini diharapkan menjadi sebuah unsur yang membantu
seorang kas surplus sebelum melakukan sebuah investasi. Falsafah utama dalam
berinvestasi, yaitu high risk, high
return (resiko tinggi, imbal hasil juga tinggi). Dalam berinvestasi ada
beberapa prinsip yang harus diketahui, yakni meningkatnya ketidakpastian global
menganjurkan setiap investor untuk memegang mata uang yang kuat karena
penurunan harga komoditas berimplikasi turunnya nilai ekspor sehingga neraca
perdagangan dan neraca berjalan akan mengalami defisit. Investor juga harus menyadari
bahwa prinsip melakukan investasi dalam bentuk asset, baik rill maupun
finansial adalah sama.
Sebagai seorang yang memiliki kas
surplus hendaknya memahami bahwa pembelajaran dari kesalahan sendiri serta
kesalahan orang lain sangat membantu untuk memilih sebuah investasi. Sehingga
seorang pemilik kas surplus akan berpikir rasional untuk memilih suatu
investasi yang baik. Membandingkan nilai dengan harga harus menjadi bahan
perhatian seorang investor yaitu dengan menerapkan strategi buy low and sell high, selain itu
investor harus memahami apa yang hendak ia beli ( buy what you know and know what you buy). Mencari asset yang
returnnya positif (necessary condition)
dengan pertumbuhan return yang juga
positif (sufficient condition).
Memahami aset yang nilainya lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan akan
memberi peluang bagi investor untuk mendapatkan pertumbuhan yang bernilai
positif baik dalam return yang pertama dan return yang kedua. Setiap investor
harus mampu melihat dan memahami suatu produk investasi.
Pada dasarnya pilihan investasi akan
tergantung dari beberapa faktor, antara lain: Jangka waktu investasi, Tingkat
risiko yang diterima, Karakter arus kas yang dikehendaki. Sebagai seorang
investor harus dapat melihat nilai investasi yang ditanamkan oleh suatu
perusahaan dengan melihat hasilnya (return), serta menganalisis kinerja suatu
perusahaan merupakan sesuatu yang sangat penting dan tidak terpisahkan. Pada
umumnya suatu perusahaan melakukan investasi pada suatu aset tetap dan surat berharga,
dimana surat berharga ini dibedakan menjadi kelompok, yaitu surat utang dan
saham. Investasi secara tidak langsung pada suatu perusahaan dapat dilakukan
dalam bentuk pembelian surat utang (obligasi) atau saham. Obligasi merupakan suatu instrument investasi,
maka investor sangat memerlukan yield (imbal hasil) yang diperoleh dari
instrument tersebut. Imbal hasil obligasi merupakan hasil yang diperoleh dari
menginvestasikan sejumlah dana pada pada suatu obligasi. Obligasi (bond)
merupakan utang jangka panjang yang akan dibayar kembali pada saat jatuh tempo
dengan bunga yang tetap jika ada. Nilai utang dari obligasi tersebut dinyatakan
dalam surat utangnya (Hartono, 2009:150). Imbal hasil yang dapat diperoleh
investor dari sebuah obligasi mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.
Kehadiran pasar modal sangat penting
bagi seorang investor maupun sebuah perusahaan, dimana melalui instrumen pasar
modal perusahaan sebagai pihak yang membutuhkan dana dapat menghimpun dananya
dengan menjual sahamnya kepada public atau menerbitkan surat hutang
(obligasi), sedangkan investor sebagai pihak yang mempunyai dana dapat
dijadikan pasar modal sebagai alternatif saran investasi untuk mendapatkan
keuntungan. Perusahaan yang menerbitkan obligasi akan memberikan bagi hasil
berupa deviden atau berupa bunga (coupon) jika menjual sahamnya kepada
masyarakat luas melalui pasar modal. Sifat dari utang adalah mempunyai jangka
waktu jatuh tempo dan berbunga. Serta pola pembayaran bunga biasanya adalah
rutin, misalnya kuartalan atau semesteran. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan harga obligasi adalah diantaranya bunga obligasi (coupon),
jangka waktu jatuh tempo, dan liquiditas obligasi.
KAJIAN
PUSTAKA
2.1 Uraian Teoritis
Risiko
adalah Suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode
tertentu atau probabilitas sesuatu hasil/outcome
yang berbeda dengan yang diharapkan. (Situmorang; 2009). Risiko dapat juga
dikatakan ketidakpastian yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian (Salim;
1993). Menurut Ricky W. Griffin dan Ronald Ebert, risiko adalah uncertainty about future event, adapun
Joel G.Siegel dan Jae K.Sim mendefinisikan risiko pada 3 hal: Keadaan yang
mengarah kepada sekumpulan hasil khusus dimana hasilnya dapat diperoleh dengan
kemungkinan yang telah diketahui oleh pengambilan keputusan, variasi dalam
keuntungan penjualan atau variabel keuangan lainnya, kemungkinan dari sebuah
masalah keuangan yang mempengaruhi kinerja operasi perusahaan atau posisi keuangan(Sumber:https://nykafahmautami.wordpress.com/2012/09/16/risk-and-return/). Risiko adalah Kemungkinan kerugian
finansial atau lebih formal, variabilitas pengembalian yang terkait dengan
asset yang diberikan (Gitman; 2009).
Return
atau pengembalian adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan, individu dan
institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukan. Imbal hasil adalah
keuntungan atau kerugian total yang dialami pada investasi selama periode waktu
tertentu. Dihitung dengan membagi distribusi aset kas selama periode tersebut,
ditambah perubahan nilai, dengan awal nilai investasi periode tersebut (Gitman;
2009). Menurut R. J. Shook, return merupakan laba investasi, baik melalui bunga
atau deviden. Beberapa pengertian return yang lain :
1. Return
on equity atau imbal hasil atas ekuitas merupakan pendapatan bersih dibagi
ekuitas pemegang saham.
2. Return
of capital atau imbal hasil atas modal merupakan pembayaran kas yang tidak kena
pajak kepada pemegang saham yang mewakili imbal hasil modal yang diinvestasikan
dan bukan distribusi deviden. Investor mengurangi biaya investasi dengan jumlah
pembayaran.
3. Return
on investment atau imbal hasil atas investasi merupakan membagi pendapatan
sebelum pajak terhadap investasi untuk memperoleh angka yang mencerminkan
hubungan antara investasi dan laba.
4. Return
on invested capital atau imbal hasil atas modal investasi merupakan pendapatan
bersih dan pengeluaran bunga perusahaan dibagi total kapitalisasi perusahaan.
5. Return
realisasi merupakan return yang telah terjadi.
6. Return
on network atau imbal hasil atas kekayaan bersih merupakan pemegang saham yang
dapat menentukan imbal hasilnya dengan membandingkan laba bersih setelah pajak
dengan kekayaan bersihnya.
7. Return
on sales atau imbal hasil atas penjualannya merupakan untuk menentukan
efisiensi operasi perusahaan, seseorang dapat membandingkan presentase penjualan
bersihnya yang mencerminkan laba sebelun pajak terhadap variable yang sama dari
periode sebelumnya.
8. Return
ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di
masa mendatang. Total return merupakan return keseluruhan dari suatu investasi
dalam suatu periode tertentu.
9. Return
realisasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return-return
realisasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio tersebut serta,
return ekspektasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return-return
ekspektasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio. (Sumber: https://nykafahmautami.wordpress.com/2012/09/16/risk-and-return/).
Obligasi
(bond) merupakan utang jangka panjang yang akan dibayar kembali pada
saat jatuh tempo dengan bunga yang tetap jika ada. Bond adalah instrument utang
jangka panjang yang digunkan oleh bisnis
dan pemerintah untuk menaikkan utang dalam jumlah besa, umumnya dari kelompok
pemberi pinjaman (Gitman; 2009). Nilai utang dari obligasi tersebut dinyatakan dalam
surat utangnya (Hartono, 2009:150). Obligasi merupakan suatu instrument investasi,
maka setiap investor sangat memerlukan yield
(imbal hasil) dari instrument tersebut. Imbal hasil obligasi tersebut
adalah hasil yang diperoleh dari menginvestasikan sejumlah dana pada suatu
obligasi. Ketika sebuah perusahaan ingin meminjam uang dari masyarakat dengan
jangka panjang, biasanya akan melakukan dengan menerbitkan atau menjual surat
utang yang umumnya disebut obligasi (Ross at al 201; 2003). Tingkat imbal hasil
obligasi yang diperoleh investor tersebut akan mengalami perubahan seiring
dengan berjalannya waktu. sifat dari suatu surat utang (obligasi) adalah
memiliki bunga (coupon) dan jangka waktu jatuh tempo. Kupon adalah berupa
pendapatan suku bunga yang diterima oleh pemegang obligasi atas perjanjian
dengan penerbit obligasi tersebut. Kupon biasanya dilakukan pembayaran secara
periode tertentu (Sapto Rahardjo; 2003). Nilai suatu kupon yang tinggi akan
menarik minat investor untuk melakukan investasi karena nilai kupon yang tinggi
akan memberikan yield yang tinggi
pula kepada investor dan nilai ini berbanding lurus dengan harga obligasi
tersebut, maka dapat dikatakan bahwa high
risk, high return (resiko tinggi, imbal hasil juga tinggi). Salah satu
faktor yang mempengaruhi imbal hasil obligasi adalah tingkat suku bunga. Tingkat suku
bunga yang digunakan adalah tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI rate).
Ketika tingkat suku bunga SBI menurun maka banyak perusahaan yang akan
menerbitkan obligasi, Sedangkan dengan naiknya tingkat suku bunga SBI
mengakibatkan investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi atas risiko di
masa depan.
Sedangkan
jangka waktu jatuh tempo yang sering disebut dengan maturity date, pada tanggal jatuh tempo ini penerbit obligasi harus
membayarkan nilai pokok obligasinya kepada investor. Obligasi yang memiliki
periode jatuh tempo lebih lama maka akan semakin lebih tinggi tingkat risikonya
sehingga yield yang didapatkan juga berbeda dengan obligasi yang umur
jatuh temponya cukup pendek. Oleh karena itu, periode jatuh tempo untuk
obligasi perusahaan di Indonesia biasanya dibuat dalam jangka waktu 5 tahun
saja (Sapto Rahardjo; 2003). Aarstol (2000) dan Sapto Rahardjo (2003)
mengemukakan bahwa semakin pendek jangka waktu obligasi maka akan semakin
diminati investor karena dianggap resikonya lebih kecil. Tingginya volume dan
frekuensi transaksi perdagangan obligasi akan mengindikasikan bahwa obligasi
itu bersifat liquid. Menurut Yuan (2001) Likuiditas obligasi yang tinggi akan
menyebabkan obligasi lebih menarik karena tersedianya pembeli dan penjual yang
lebih banyak sehingga pihak yang memiliki obligasi dapat menjual obligasinya
kapan saja. Setiap investor akan mendapatkan imbal hasil dari selisih kenaikan
harga (capital gain), selain dari
pendapatan tetap bunga (coupon).
Harga obligasi selalu mengalami fluktuasi, hal ini disebabkan oleh aktivitas
jual beli dari investor, maupun dipengaruhi oleh besaran variabel ekonomi makro
seperti tingkat inflasi, tingkat suku bunga, pertumbuhan ekonomi, nilai tukar.
Seorang
investor yang akan membeli obligasi hendaknya memperhatikan adanya default
risk, yaitu risiko yang dihadapi oleh investor atau pemegang obligasi
karena tidak dapat membayar obligasi pada saat jatuh tempo (Manurung dan Tobing,
2010:5). Bond Rating adalah skala risiko dari beberapa obligasi yang
diperdagangkan. Skala ini menunjukkan seberapa aman bagi investor. Keamanan ini
ditunjukkan oleh kemampuan dalam membayar bunga dan pelunasan pokok pinjaman.
Untuk menentukan skala tersebut diperlukan variabel yang mempengaruhi obligasi,
kemudian dihitung. Dari perhitungan tersebut ditemukan standar untuk
mendapatkan peringkat tertentu (Lubis, 2006). Bon rating ini dapat digunakan
sebagai acuan ketika hendak membeli suatu obligasi. Default risk dapat dipengaruhi oleh siklus bisnis yang
berubah sehingga menurunkan perolehan laba, kondisi ekonomi makro dan situasi
politik yang terjadi, dan lain sebagainya. Bond Rating ini berguna bagi pasar
ekonomi makro suatu negara untuk melihat kinerja suatu perusahaan yang hendak
menerbitkan obligasi.
2.2 Penelitian Terdahulu
Menurut
Herdy Damena, Ervita Safitri, Rini Aprilia (2013) dengan judul “Analisis
Pengaruh Bunga Coupon (Bunga Obligasi), Jangka Waktu Jatuh Tempo, dan
Liquiditas Obligasi Terhadap Tingkat Perubahan Harga Obligasi yang Terdaftar di
Bursa Efek Indonesia”. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan sampel
sebanyak 65 obligasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012
yang dipilih secara purposive sampling. Dengan menggunakan Model penelitian yaitu model regresi linier
berganda. Hipotesis yang diuji menggunakan uji t dan uji f. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa secara simultan menunjukkan bahwa coupon, jangka waktu jatuh tempo
dan likuiditas obligasi berpengaruh signifikan terhadap tingkat perubahan harga
obligasi, dengan nilai F hitung (51,842) > F tabel (2,75). Secara parsial
adalah coupon berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga obligasi,
jangka waktu jatuh tempo tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga
obligasi, sedangkan likuiditas obligasi berpengaruh signifikan terhadap
perubahan harga obligasi di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2010-2012.
I
Gusti Ayu Purnamawati (2011) dengan judul “Pengaruh Peringkat Obligasi, Tingkat
Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia, Rasio Leverage,
Ukuran Perusahaan dan Umur Obligasi pada Imbal Hasil Obligasi Korporasi di
Bursa Efek Indonesia” Penelitian ini dilakukan kepada seluruh obligasi
korporasi non keuangan yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia
periode tahun 2009 sampai dengan 2010 yang berjumlah 63 obligasi berdasarkan
kriteria purposive sampling diperoleh
33 sampel obligasi. Tujuan penelitin ini untuk mengetahui pengaruh peringkat
obligasi, tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia, rasio Leverage, ukuran perusahaan, dan umur
obligasi pada imbal hasil obligasi di Bursa Efek Indonesia. Hipotesis
penelitian diuji dengan menggunakan regresi linear berganda (multiple
regression). Penelitian ini menyimpulkan bahwa peringkat obligasi dan
ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada imbal hasil obligasi.Tingkat suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia dan umur obligasi berpengaruh positif pada
imbal hasil obligasi.Sedangkan rasio leverage tidak berpengaruh pada
imbal hasil obligasi.
Menurut
Gatot
Nazir Ahmad, Mohammad Zakaria (2009) dengan judul “Pengaruh Bond Rating
Terhadap Imbal Hasil Saham di Bursa Efek Indonesia” penelitian ini dilakukan
terhadap 20 Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008
dengan menggunakan Beta, EPS, likuiditas sebagai variabel kontrol untuk melihat
pengaruh Bond Rating terhadap Return Saham. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa variabel Beta dan Likuiditas memberikan pengaruh yang
negatif. Beta tidak sesuai teori dan tidak mendukung penelitian sebelumnya,
sedangkan likuiditas tidak mendukung secara teori dan penelitian terdahulu,
sedangkan EPS memberikan pengaruh yang positif terhadap return saham, sejalan
dengan tori dan penelitian sebelumnya, namun ketiga variabel ini, tidak
membrikan pengaruh yang signifikan terhadap return
saham.
Menurut
Eliada Herwiyanti dan Zaki Baridwan (2008) dengan judul “Pengaruh Kualitas Laba
pada Yields Obligasi dengan Corporate Governance sebagai Variabel
Pemoderasi”
penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur tidak melibatkan seluruh
seluruh emiten yang menerbitkan obligasi di pasa modal Indonesia. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sesuai hasil pengujian terhadap H1 disimpulkan
bahwa pelaku pasar khususnya investor obligasi di pasar modal Indonesia tidak
memperhatikan kualitas laba dalam berinvestasi obligasi, hal ini dikarenakan
obligasi merupakan investasi fixed claim,
jadi relative lebih aman dibandingkan berinvestasi dengan saham, hal ini
menunjukkan bahwa dan pengujian pada H2 dan H3 menyimpulkan bahwa pengaruh
kualitas laba terhadap yield to maturity
tidak dapat di moderasi dengan corporate governance yang diproksikan dengan
kepemilikan institusi dan komisaris independen. Hal ini mungkin dikarenakan
belum tersosialisasinya dengan baik konsep good
corporate governance atau bisa jadi karena adanya praktik good corporate governance di Indonesia
masih lemah.
KESIMPULAN
meningkatnya ketidakpastian global
menganjurkan setiap investor untuk memegang mata uang yang kuat karena
penurunan harga komoditas akan berimplikasi terhadap turunnya nilai ekspor
sehingga neraca perdagangan dan neraca berjalan akan mengalami defisit. Investor
juga harus menyadari bahwa prinsip melakukan investasi dalam bentuk asset, baik
rill maupun finansial adalah sama. Setiap investor harus mampu melihat dan
memahami suatu produk investasi dan nilai investasi yang ditanamkan oleh suatu
perusahaan dengan melihat hasilnya (return), serta menganalisis kinerja suatu
perusahaan merupakan sesuatu yang sangat penting dan tidak terpisahkan. Pada
dasarnya pilihan investasi akan tergantung dari beberapa faktor, antara lain:
Jangka waktu investasi, Tingkat risiko yang diterima, Karakter arus kas yang
dikehendaki. Suatu perusahaan melakukan investasi pada suatu aset tetap dan
surat berharga, dimana surat berharga ini dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu
surat utang dan saham.
Obligasi adalah suatu instrument investasi.
Dimana obligasi (bond) merupakan utang jangka panjang yang akan dibayar
kembali pada saat jatuh tempo dengan bunga yang tetap jika ada. Nilai utang
dari obligasi tersebut dinyatakan dalam surat utangnya (Hartono, 2009:150).
Imbal hasil obligasi tersebut adalah hasil yang diperoleh dari menginvestasikan
sejumlah dana pada suatu obligasi dan tingkat imbal hasil obligasi yang
diperoleh investor tersebut akan mengalami perubahan seiring dengan berjalannya
waktu. Sifat
dari suatu surat utang (obligasi) adalah memiliki bunga (coupon) dan jangka
waktu jatuh tempo. Kupon berupa pendapatan suku bunga yang diterima oleh
pemegang obligasi atas perjanjian dengan penerbit obligasi tersebut. Nilai
suatu kupon yang tinggi akan menarik minat investor untuk melakukan investasi
karena nilai kupon yang tinggi akan memberikan yield yang tinggi pula kepada investor dan nilai ini berbanding
lurus dengan harga obligasi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa high risk, high return (resiko tinggi,
imbal hasil juga tinggi).
Jangka waktu jatuh tempo sering disebut
dengan maturity date. Dimana pada
tanggal jatuh tempo penerbit obligasi harus membayarkan nilai pokok obligasinya
kepada investor. Obligasi yang memiliki periode jatuh tempo lebih lama, mengindikasikan
bahwa tingkat risikonya semakin lebih tinggi sehingga yield yang
didapatkan juga berbeda dengan obligasi yang umur jatuh temponya cukup pendek. Default risk, yaitu risiko
yang dihadapi oleh investor atau pemegang obligasi karena tidak dapat membayar
obligasi pada saat jatuh tempo (Manurung dan Tobing, 2010:5). Default risk dapat dipengaruhi oleh siklus bisnis yang
berubah sehingga menurunkan perolehan laba, kondisi ekonomi makro dan situasi
politik yang terjadi, dan lain sebagainya. Maka Bond Rating merupakan skala
risiko dari beberapa obligasi yang diperdagangkan. Bon rating ini dapat
digunakan sebagai acuan ketika hendak membeli suatu obligasi. Melalui Bon Rating pasar ekonomi makro suatu
negara dapat melihat kinerja suatu perusahaan yang hendak menerbitkan obligasi
dan memilih yang terbaik..
DAFTAR PUSTAKA
Frensidy, Budi.
2013. Lihai Sebagai Investor Panduan
Memahami Dunia Keuangan dan Investasi di Indonesia. Edisi Pertama. Penerbit
Salemba Empat : Jakarta
Gitman. 2009. Management Finance. Brief Fifth Edition
: US
Hartono, J.
2009. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Keenam.
BPFE : Yogyakarta.
Hadianto dan
Wijaya. 2010, Prediksi Kebijakan Utang, Profitabilitas, Likuiditas Ukuran, dan Status
Perusahaan Terhadap Kemungkinan Penentuan Peringkat Obligasi, Jurnal
Manajemen Teori dan Terapan, Vol. 3, No. 3
https://nykafahmautami.wordpress.com/2012/09/16/risk-and-return (Diakses 10
April 2015 11:53 AM)
Lubis,
Ade Fatma. 2006. Pasar Modal. Depok
FEUI.
Manurung, A.H.,
dan Tobing, W.R. L. 2010. Obligasi (Harga portofolio dan
Perdagangannya). Jakarta: PT. Adler Manurung Press.
Nurfauziah
dan A.Fatma.S. Analisis
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Yield Obligasi Perusahaan (studi kasus pada
industri perbankan dan industri finansial), Jurnal Siasat Business Vol.2
No.9.
Prihadi, Toto.
2012. Praktis Memahami Laporan Keuangan
Sesuai IFRS & PSAK. Edisi Kedua. Penerbit PPM Manajemen : Jakarta
Rahardjo, Sapto.
2003. Panduan Investasi Obligasi.
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Ross,
Westerfield, Jordan. 2003. Fundamentals
of Corporate Finance. Edisi ketujuh : US
Situmorang,
Syafrizal. 2009. Bisnis Perencanaan dan
Pengembangan. Edisi kedua. USU Press : Medan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar